Umat
muslim yang ikut dalam gerakan ‘aksi sholat Shubuh Berjamah 1212’ di PUSDAI
Bandung dan di berbagai daerah yang ada di Indonesia, masjid-masjid sampai tak
mampu menampung jamaah sholat subuh 1212.
Kabar
baiknya dan yang menjadi sebuah pertanyaan, apakah ini awal dari kebangkitan
Islam di Indonesia? Selain melaksanakan sholat shubuh berjamaah, umat Islam
juga menggelar sholat tahajud dimasjid. Waktunya pelaksaannya pun (Senin 12
Desember 2016) bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Gerakan
Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) penggerak aksi
sholat shubuh berjamaah tersebut. Pusat informasi di Kota Bandung, tepat di
Masjid Pusdai, Jalan Diponegoro No 63. Kegiatan yang membangkitkan semangat
umat Islam itu, mendapat antusiasme luas dari masyarakat, tak hanya datang dari
warga Jawa Barat (Jabar). Meski cuaca gerimis menyapa Bandung, sejak pukul
03.00 WIB, banyak sekali umat muslim yang sudah berduyun-duyun ke lokasi.
Ini
sebagian gambar yang dapat diliput dalam ‘Aksi Shalat Subuh Berjamaah 1212’
yang dapat dikumpulkan dari berbagai daerah :
1.
Suasana Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Ar Rahman Pekan Baru.
2. Suasana
Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Al Azhar Jakapermai Bekasi.
3. Suasana
Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Al Millah Sidoarjo
4. Suasana
Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Agug Taluk Kuantan Riau.
5. Suasana
Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Al Madani Surabaya.
Aksi
sholat shubuh berjamaah ini merupakan konsolidasi semangat aksi Bela Islam
Jilid III, atau dikenal sebagai aksi 212 lalu. Sebelum melaksanakan sholat
Subuh, ada beberapa kegiatan ceramah/taushiah yang dilakukan oleh asatidz dan
ulama. Gerakan #SubuhBerjamaah1212 berjamaah ini tidak hanya dilakukan di
Bandung, ada 70 titik kegiatan serupa yang dilakukan di berbagai wilayah di
Indonesia, seperti di Medan. Wasekjen MUI, Tengku Zulkarnain pun menyatakan di
Medan jamaah sholah shubuh luar biasa ramai sehingga masjid Agung Medan tidak
muat.
Sumber : berbagai sumber
“Bila kau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan
menanggung perihnya kebodohan” (Imam Syafi’i)














