Sejumlah
petani asal Tiongkok atau Cina bertani di Bogor Jawa Barat. Parahnya, bibit
cabai yang mereka tanam ternyata mengandung bakteri berbahaya karena bisa
merusak tanaman palawija warga setempat.
Benih
cabai yang dibawa pakar pertanian asal Cina diketahui mengandung bakteri
perusak tanaman. Bakteri bernama Erwinia Chrysanthemi ini belum
pernah muncul di Indonesia sebelumnya.
Badan
Karantina Pertanian Indonesia telah memusnahkan benih dan tanaman cabai
berbahaya itu pada Kamis (8/12/2016). Selain benih cabai, bawang daun, serta
sawi hijau yang ditanam petani Cina di Kampung Gunung Leutik, Desa Suka Damai,
Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, juga dimusnahkan.
Kepala
Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Dr Antarjo Dikin, menyebut bakteri berbahaya yang ditemukan itu
menjadi media pembawa organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK). Bibit ini
membahayakan produksi nasional petani cabai Indonesia. Hal itu dikarenakan
positif terdapat Bakteri Erwinia Chrysanthemi.
“Bakteri
ini merupakan OPTK Golongan A1. Belum ada di Indonesia dan tidak dapat
diberikan perlakuan apapun selain pemusnahan,”
ujar Antarjo Dikin, seperti dilansir Radar Bogor, Jumat (9/12/2016).
Dia
menjelaskan, sedikitnya ada dua kilogram benih cabai, dan 5.000 batang tanaman
cabai, serta satu kilogram benih bawang daun dan sawi hijau yang diangkut dari
Bogor ke balai Tangerang. Di sana, semua tanaman yang telah terkontaminasi itu
dibakar dengan incinerator.
Bakteri
Erwinia Chrysanthemi, menurutnya, dapat menimbulkan
kerusakan atau kegagalan produksi hingga mencapai 70 persen. Mengacu pada data
BPS, 2014, produksi cabai nasional sebesar 1,075 juta ton dan estimasi harga
cabai hari ini Rp 60.000. Sehingga potensi kerugian ekonomi produksi cabai
dapat mencapai Rp 45,1 triliun.
“Selain
itu bakteri ini juga dapat menyerang dan menular pada tanaman-tanaman lain yang
ada di Indonesia termasuk bawang,” jelas Antarjo.
Temuan
tim pengawasan dan penindakan Badan Karantina Pertanian itu atas kerjasama
dengan Kantor Imigrasi Kelas I Bogor, yang menangkap empat petani asal
Tiongkok, 8 November lalu.
Sumber : posmetro
“Bila kau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan
menanggung perihnya kebodohan”
(Imam Syafi’i)

