Bisa
makan secara teratur, sudah menjadi kebutuhan primer setiap orang. Namun
kebutuhan tersebut dinilai belum bisa dirasakan oleh semua orang. Terutama
lapisan masyarakat kelas bawah yang hidup di tengah kota.
Berangkat
dari persoalan tersebut, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Semarang turun tangan
menuntaskan rasa lapar dengan berbagi nasi bungkus kepada masyarakat yang
benar-benar membutuhkan bantuan. “Ini adalah salah satu bentuk
kepeduliaan kami dari BMH kepada masyarakat dhuafa yang memiliki nilai mulia,
mengapa mulia karena mereka sebagai tukang bersih-bersih dijalan dengan ikhlas,
ujar Ikhwan”, Humas BMH Jawa Tengah, Selasa (29/11/2016).
Program
berbagi nasi bungkus dijalan (nasi bungkus on the street) ini diadakan rutin setiap Jum’at
dengan sasaran penerima manfaat kaum dhuafa tukang bersih bersih jalan secara
bergantian, pada kesempatan ini selasa (29/11/2016) bertempat disepanjang
Jalan Raya Sisingamangaraja, Jalan Papandayan, Jalan Kawi, Jalan Kelud
Raya dan Jalan Lamongan dengan jumlah penerima manfaat tak kurang dari 100
orang setiap kali aksi, tambah Ikhwan.
Suparni
(54 th) salah satu penerima program nasi on the street di Jalan Papandayan ini
merasa senang, karena ia biasanya harus mengeluarkan kocek sendiri untuk
kebutuhan makan siang, sehingga anggaran makan siangnya bisa untuk dibelikan
beras, ungkapnya penuh haru.
Selain
itu, janda yang sudah puluhan tahun menjadi tukang kebersihan jalan ini merasa
bersyukur masih diberi kesehatan dan bisa bekerja, ia juga menuturkan bahwa
keinginanlah yang memanggilnya untuk menjadi kuli kebersihan jalan, “Saya
menganggap ini adalah pekerjaan baik bagi saya makanya saya lakukan setiap
hari”, tambahnya.
Untuk
diketahui, pahlawan kebersihan seperti inilah yang semangat dan dengan
keikhlasannya membersihkan jalan setiap hari, begitu mulianya. Olehnya, BMH
mengajak kepada masyarakat untuk bersinergi dalam membantu mereka dengan
program nasi on the street ini insyaAllah kemuliaan akan menjadi bagian dari
kita semua.
Sumber : panjimas
“Bila kau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan
menanggung perihnya kebodohan”
(Imam Syafi’i)

