Kasus
dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)
bukanlah perkara yang sederhana dan hendaknya segera dilakukan penyelesaian
yang berkeadila.
Pasalnya,
menurut Akademisi Doktoral dari Alumni Universitas Kebangsaan Malaysia, Tito
Rizal, kasus tersebut telah menyeret pertaruhan keutuhan bagi negara
dan bangsa.
Dia
menyampaikan apabila kasus ini menemui jalan buntu, maka resiko terburuk sedang
mengintai bagi negara Indonesia. Kehancuran pertama jelasnya, dimulai dari sisi
ekonomi nasional yang mengalami ambruk.
“Apabila
tidak mampu diselesaikan hukum, tentunya dampaknya yaitu demo secara besar
besaran akan berlanjut dan masif ke daerah-daerah. Dari sana mempengaruhi
ekonomi dan meramba ke sektor lain,” ujar Tito usai menjadi pembicara
dialog di kawasan Cikini Jakarta, Rabu (30/11/2016)
Dengan
suasana tidak kondusif seperti itu, investor merasa tidak kondusif dalam
mengembangkan bisnis di Indonesia dan ditambah kejatuhan nilai tukar rupiah
yang diiringi gangguan perdagangan ekspor dan impor.
Sedangkan
di sisi lain harga-harga mulai melonjak naik serta terjadi PHK di sana-sini.
Dampaknya kredit perbankan akan macet karena nasabah tak mampu membayar
cicilan.
“Akhirnya
perbankan mengalami kesulitan likuiditas. Disaat itu gelombang rush money akan
nyata. Itu rush money terjadi secara natural karena tekanan keadaan, berbeda
dengan rush money yang diserukan lewat medsos saat ini. Masyarakat saat ini
tidak melakukannya karena dalam suasana ekonomi yang tidak terpaksa,”
tambahnya.
Selanjutnya
jika ekonomi sudah ambruk, kekisruhan merambah kepada krisi politik dan krisis
sosial. Puncaknya kedaulatan negara menjadi hal yang dipertaruhkan.
“Disaat
itu yang melakukan rush money bukan hanya umat Islam, namun seluruh bangsa
Indonesia akan melakukan hal itu. Akan ada juga aksi borong dolar, maka akan
makin memperparah keadaan rupiah. Sementara kekerasan akan terjadi dimana-mana
dan terjadi degradasi Sosial,” tandasnya.
Sumber : posmetro
“Bila kau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan
menanggung perihnya kebodohan”
(Imam Syafi’i)

