Minggu, 11 Desember 2016

✿ Zara Zettira : Sejak Reformasi Kita Terus Diarahkan Untuk Buta Sejarah.


Dijaman perang kemerdekaan dulu golongan intelektual bersatu dgn rakyat untuk satu tujuan : merdeka, karena sudah lelah diinjak injak penjajah di bumi kita sendiri!


Soekarno Hatta memimpin mewakili golongan intelektual dan bung Tomo dkk memimpin pergerakan rakyat bersama pahlawan2 dari semua penjuru Indonesia. Sekarang ini walaupun merdeka secara de facto sesungguhnya kita dijajah secara legal oleh bangsa lain. Sebab jika benar kita merdeka mengapa keputusan2 rezim ini miring ke kepentingan bangsa lain? Mengapa teriakan PNS yg sampai memakan korban jiwa diabaikan bahkan dialihkan issuenya dgn kunjungan presiden hebat ke Amerika?

Mengapa belum semua pahlawan kita mendapat penghargaan tapi monumen untuk China dibangun mendagri??? Sejelek2 nya kakek dan kakek buyut kita yg dulu ikut berjuang saja belum dihargai lantas apa peran negri China sampai dibuatkan monumen? Yang kita tahu China menghembuskan Faham PKI yg menghabisi pribumi dengan peristiwa Lubang Buaya.

Belum lagi perlakuan pada sektor ekonomi dimana kebijakan2 tidak mengacu pada rakyat tapi pada penguasa dan asing. Dimana logikanya negri yang masih dibawa garis kemiskinan ini dibebani biaya kantong plastik? Sedangkan India menolak kebijakan global warming karena sadar rakyatnya belum mampu ikut2an trend dunia (yang meskipun baik untuk masa depan) karena sadar rakyatnya makan saja masih susah mana prioritas pemerintah?

Sejak era reformasi amien rais – mega terlihat sekali awal rencana makro ini untuk menutup sejarah. Di negara mana IMF bisa dengan jumawa melengserkan presiden ? Namun saat itu media berteriak2 euphoria karena diberikan kebebasan pers. Dimana kebebasan pers itu kini? Sedangkan postingan FB dan online mulai banyak yg di delete hack block? Di jalan2 tindakan represif dimulai dengan sebaran flyers yg demo ditembak.

Mana kemerdekaan dan reformasi? Semakin masiv media dibayar bahkan coro coro di medsos pun rata2 sdh tah dan mencari job untuk jd corong tnp peduli benar salah asal dpt duit ( inj sy tau persis krn yg nawarin diri sm saya banyak!)

Bangkitlah saudara2ku berjuang dimulai dengan mencerdaskan diri sendiri cerdas dalam memilih berita rajin dalam membaca ilmu itu tidak bisa didapat dari berita 20 kalimat online maka jangan mau buku plajaran diganti tablet! Karena kita tidak tahu aplikasi2 apa yang akan disusupkan ke anak cucu kita untuk membrain wash mereka menutupi sejarah yg benar.

Jika postingan saya hilang maka alhamdulillah karena menjadi bukti bahwa benar sejak pilpres saya dan beberapa kawan masuk radar list yg dianggap berbahaya smile emotikon pemimpin macam apa yang TAKUT pada opini? Ngaku Terpilih tapi takut?

Sumber : repelita


“Bila kau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” (Imam Syafi’i)
 
;