Argumentasi
sederhana ini cukup telak mematahkan fatwa Gus Mus dan Said Aqil Siradj (SAS)
terkait larangan sholat Jum’at di jalan. Gus Mus sebut sholat Jum’at di jalan
adalah bid’ah besar, sedangkan Said Aqil Siradj sebut tidak sah.
Faktanya,
bukan cuma jutaan umat Islam yang tidak mau melaksanakan fatwa Gus Mus dan Said
itu, Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla serta jajarannya pun
mengabaikan fatwa petinggi organisasi PBNU itu.
Kenapa
bisa demikian? Ulasan sederhana dari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa
Timur KH Ahmad Musta’in Syafi’ie yang berjudul: “DAHSYATNYA ENERGI
AL-MAIDAH:51” ini coba menjawabnya.
DAHSYATNYA
ENERGI AL-MAIDAH:51
Oleh
: KH Ahmad Musta’in Syafi’ie
Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur.
Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur.
Sekian
lama kiai toleransi sengaja “menyembunyikan-mu”, wahai al-Maidah : 51. Ternyata
Pemilikmu tersinggung. Lalu, dengan cara-Nya sendiri Dia bertindak. Cukup lidah
Ahok diplesetkan dan NKRI tersentak menggelegar, menggelepar. Kita petik
hikmahnya :
1.
Aksi 411 and 212 adlh bukti bhw Allah SWT itu ada dan kehendakNya tdk bisa
dibendung oleh siapapun. Pemerintah trpaksa harus mengalah, pdhal sblumnya
Jokowi sdh pamer militer. Kini aksi diarahkan menjadi doa. Ternyata malah punya
daya tarik yg luar biasa. Sluruh negeri menyambut dg nama berbeda, aksi
Nusantara Bersatu, istighatsah militer dll.
Negara
jg trpaksa mengeluarkan dana sangt besar utk menfasilitasi aksi 212. Aparat di
jalanan trpaksa harus menyesuaikan diri dg menggunakan simbol-simbol islam.
Polisi pakai surban putih, membuat tim khusus bernama ASMAUL HUSNA, polwan
serentak berjilbab, Habib papan atas memimpin istighatsah pakai ikat
merah-putih melilit kepala. Lucu (?). Mungkin Tuhan sdng menjewer telinga kita,
agar slalu “putih” dlm mengemban amanat.
2.
Mestinya penguasa dan para cukong sadar, bhw negeri ini lebih didirikan oleh
teriak “Allah Akbar” ketimbang “Haliluya”. Umat islam yg selama ini diam, kini
sbgian kecil berani menunjukkan jati dirinya scra alamiah dan sangat militan.
Inilah yg disebut “silent majority”. Maka jangan coba-coba mengusik “air
tenang” jika tidak ingin hanyut.
3.
Aksi ini sungguh peringatan, bahwa : tasamuh, tawazun, tawassut yg dislogankan
NU itu perlu ditinjau kembali. Bukan pada konsepnya, tapi praktiknya. Di
samping ada batasan, wajib apa pengawalan yg tegas dan bijak. Sadarlah, betapa
kaum Nahdliyin diam-diam mengapresiasi aksi ini secara suka rela. Artinya,
mereka sdh mulai tdk sudi dan meninggalkan gaya PBNU yg tk jelas. Sok
toleransi, tapi tak ada aksi. Berdalih” RAHMATAN LIL ‘ALAMIN” tapi sejatinya
“ADL’AFUL IMAN”.
Dialah
Rasulullah SAW, saat pribadinya disakiti, memaaf. Jika agama dinista, beliau
marah besar. Bbrpa suku dan pribadi dikutuk dan dilaknat. Mukmin beneran itu
tegas-keras kepada kafir, berkasih sayang sesama mukmin, ” asyidda’ ‘ala
al-kuffar, ruhama’ bainahum” (Al-Fath:29). Tapi sebagian oknum PBNU, kiai
toleransi, kiai seni sekarang cenderung sebaliknya, “asyidda’ ‘ala al-mukminin,
ruhama’ bain al-kuffar”. (?)
4.
Gus Mus yg membid’ahkan shalat jum’ah di jalan raya dan kiai Sa’id yg
menghukumi tdk sah skrang diam soal shalat jum’ah di Silang Monas. Wonten
punopo kiai?. Begitulah bila fatwa beraroma dan tendensius, hanya melihat illat
hukum secara pendek dan sesaat. Terlalu naif menggunakan ikhtifah fiqih utk
kepentingan politik.
Benar,
jika itu mengganggu lalu lintas. Tapi hanya sebentar dan hanya pengguna jalan
yg ketepatan lewat. Stelahnya, ada maslahah sangat besar bagi umat islam pd
umumnya. Maslahah inilah yg tdk beliau lihat. Lagian, tradisi kita sdh biasa
menutup jalan utk majlis dzikir, istighatsah, trmasuk haul Gus Dur di pesantren
Tebuireng.
Gus
Mus pernah mencak-mencak saat amaliah kaum Nahdliyin dibid’ahkan, tapi sekarang
ganti membid’ahkan sesama muslim, “bid’ah besar”. Ternyata, amunisi bid’ah yg
ditembakkan Gus Mus ini lbh besar dibanding bid’ah yg ditembakkan nonnahdliyin.
Skedar
mmbaca sejarah, bhw zaman Umar ibn al-Khattab, tentara islam shalat jum’ah di
jalan sblum menaklukkan negeri futuhat. Sultan Muhammad al-Fatih shalat jum’ah
di sepanjang pantai Marmara sebelum menjebol benteng Konstatinopel. Inilah awal
khilafah Utsmniyah berdiri. Sekali lagi, orang ‘alim mesti melihat sisi
maslahah jauh ke depan ketimbang illat “bid’ah” sesaat.
Mengagumkan,
fatwa dan puisi Gus Mus begitu manusiawi, tawadlu’, filosufis dan sufistik
sehingga mengesankan derajat beliau telah mencapai hakekat keagamaan. Tiba-tiba
tega merendahkan ilmu kiai-kiai MUI dengan mengatakan ilmu Syafi’i Ma’arif
lebih tinggi. Sungguh membuat penulis tercengang. Ya. karena pernah kuliah di
Jogya dan sedikit tahu.
Merendahkan
ilmu kiai-kiai MUI sama saja dg merendahkan ilmu ketua Syuriah NU, KH. Ma’ruf
Amin. Begitu cerdiknya Gus Mus, “sekali dayung dua kepala kena pentung”.
Penulis membatin, ”kok bisa, sekelas ketua Syuriah NU tega merendahkan sesama
ketua Syuriah. Ini fenomena apa?”. Hadana Allah. Terpujilah kiai Makruf tdk
meladeni. Meski demikian, akan lebih elegan bila kiai Ma’ruf Amin tdk merangkap
jabatan. Mohon maaf kiai.
Sumber : pekanews
“Bila kau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan
menanggung perihnya kebodohan”
(Imam Syafi’i)


