KEHENDAK
untuk menegakkan sebuah prediksi, tentang akhir dari peristiwa penistaan Al
Quran oleh Ahok, agaknya dengan pendekatan model analisis sosiologis -
methafisis, adalah kombinasi antara analisis sosiologis. Juga dengan sebuah
keyakinan atau iman yang dipercaya ummat beragama terutama Islam bahwa adanya
kehadiran Tuhan dalam peristiwa khusus yang menyangkut penistaan kesucian dan
kemuliaan kalam atau firman Tuhan.
Karena
itu, model sosiologis - methafisis, adalah analisis fakta kecenderungan
perilaku masyarakat yang terlihat atau kasat mata dengan keyakinan hadirnya
Tuhan dalam rentetan alur peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam bentuk sebab
akibat atau dinamika dialektika atas totalitas peristiwa dalam cara masyarakat
merespons masalah penistaan Al Quran.
Analisa
berbasiskan kesadaran ummat yang jumlahnya luar biasa besarnya, tapi sangat
ikhlas dan cintanya dalam memperjuangkan kemuliaan Al Qur'an sebagai kalam Allah
yang suci dan mulia. Maka itu akan ada hukum sunatullah yang berlaku tetapi
didalamnya ada kehadiran atau intervensi Allah SWT, Tuhan pemilik kerajaan
langit dan Bumi, dan Tuhan sebagai tujuan akhir dari lintasan perjalanan
manusia di planet Bumi ini. Atas model pendekatan sosiologis - methafisis itu,
maka kisah perjalanan kasus Ahok ini bisa diklasifikasikan atas dua skenario
pokok.
Pertama, akan
terjadi hukuman final pada Ahok, yang berakhir pada hukuman yang setimpal dan
sama - sebangun dengan berbasis yurisprudensi dengan kasus kasus yang ada
sebelumnya, atau pelaku pelaku penista Agama sebelumnya. Ini berarti menerapkan
hukum positif yang ada sebagai mana yang tersedia dalam KUHP dan berlaku di
Indonesia. Perlakuan yang sama, adil, transparan, terbuka, akhirnya kemudian
gejolak ummat mereda lalu panggilan spiritual batiniah berbasis Iman yang ada
dalam qalbu/ hati insan beriman dan bertakwa menjadi damai dan tidak bergejolak
lagi. Karena kasus penistaan kitab suci ummat Islam, telah diselesaikan dengan
penuh keadilan dengan hukum positif yang ada dan eksisting.
Kedua, apabila putusan hukum yang final
berakhir justru sebaliknya, penuh tipu-tipu dan penuh rekayasa manusia atas
nama Kekuasaan eksisting demi pembelaan kekuatan kepentingan proxy Ahok yang merasa
sudah banyak memasok dan menginvestasikan dana untuk kepentingan mega bisnis
dan jalan politiknya ; maka akan terjadi tsunami politik serius dan besar di
basis ummat islam, terutama grassrootsnya atau bukan elite, Karena dunia elite
dalam dunia politik materialistis yang pragmatis transaksional, umumnya status
quo, maka mainstream ummat adalah ada di level grassroots yang jumlahnya amat
besar dan mendapat simpatik ummat kelas menengah dengan jumlah yang juga besar,
keduanya bersatu padu mengawal sebuah perubahan sosial, sebuah people power
sejati, akibat adanya rasa ketidak adilan yang mendalam dan tidak tertahankan
dalam suasana kebatinan berbasis panggilan iman - religius.
Gerakan
ummat yang ikhlas dan terpanggil nuraninya untuk memuliakan Agamanya, merasa
terluka melihat dan merasakan ketidakadilan dalam persepsi iman ummat, menjadi
alasan hadirnya sunatullah dan intervensi Allah SWT dalam dinamika dialektika
untuk merespons nurani ummat yang terluka atas adanya ketidakadilan dalam
penyelesaian kasus penistaan Agama ini.
Jadi
pada intinya, akan ada dua model sunatullah, dalam sosiologis - methafisis.
Mari kita tunggu dan saksikan. Tapi, sungguh kita semua berharap, jika Allah
berkenan, kita hanya menginginkan model pertama saja, karena ongkos sosial rendah
dan damai untuk negeriku.
Dan
masalah Bangsa masih begitu besar; masalah kemiskinan, keadilan ekonomi,
kesenjangan ekonomI, arus Neoliberalisme ekonomi yang membuat hegemonik kapital
dalam politik adalah masalah masalah serius yang dihadapi Bangsa ini untuk
menghadapi masa depan, yang segera harus diatasi. Maka, masalah Ahok segera
diakhiri dengan elegant, sehingga energi bangsa harus dihemat untuk digunakan
dalam mengatasi problem problem bangsa yang lain yang mendesak dan strategis.
Tulisan Oleh - Effendi Ishak
Sumber : teropongsenayan
“Bila kau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan
menanggung perihnya kebodohan”
(Imam Syafi’i)

