Dalam skala individu, hutang sangatlah
menyakitkan dan memiliki andil besar dalam memengaruhi tingkat kenyamanan hidup
pribadi, berkeluarga, bahkan bermasyarakat.
Di tingkat negara, hutang tak jauh beda
maknanya. Meski berdalih hutang untuk pembangunan, sistem bunga dalam hutang
adalah bom waktu yang sangat menyakitkan dan berdaya hancur tinggi.
Indonesia negara yang
kaya. Tapi seakan tak berdaya dalam membiayai kehidupan berbangsa dan
bernegara. Hutang seperti keharusan, padahal hanya dengan menancapkan batang
kayu, tanah Indonesia mampu menghasilkan makanan.
Hanya dengan menebar
jala dan jaring di sungai dan laut negeri ini, aneka jenis ikan dalam berbagai
ukurannya terjaring dan siap disajikan di meja makan dengan sedikit olahan.
Baru-baru ini, sebuah
harian Nasional merilis sebuah gambar yang menunjukkan jumlah hutang Negara
dari Presiden Soekarno sampai Jokowi.
Terlihat jelas, siapa
yang paling banyak berhutang. Dari negara mana hutang itu didapatkan.
Inilah kado pahit
untuk anak negeri ini. Akankah warga Indonesia bak tikus yang mati mengenaskan
di lumbung padi?
Sumber : arrahmah
“Bila kau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan
menanggung perihnya kebodohan”
(Imam Syafi’i)
Salam buat
isteri :
‘Siti Nurjanah’


