Jakarta -
Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) mengeluarkan enam
rekomendasi pasca Aksi Bela Islam 4 November 2016. Rekomendasi yang telah
disepakati oleh 99 perwakilan ulama ini diberi nama Tausiah Kebangsaan.
Ketua
Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin mengatakan, Tausiah Kebangsaan ini perlu
dikeluarkan setelah mencermati situasi nasional yang mulai terganggung akibat
munculnya kasus penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama alias
Ahok. MUI ingin persoalan ini segera dibuat terang agar tidak menimbulkan
perpecahan.
Rekomendasi
yang dikeluarkan melalui rapat pleno pada Rabu (9/11) itu berkesimpulan bahwa
ucapan Ahok mengandung unsur penistaan agama. Rekomendasi ini juga mendukung
Pendapat Keagamaan Dewan Pimpinan MUI yang telah dikeluarkan pada 11 Oktober
2016.
"Selain
mendukung Pendapat Keagamaan MUI, kami minta Pendapat Keagamaan itu dijadikan
rujukan Bareskrim Polri terkait kasus dugaan penistaan agama Ahok,"
ujar Din di Kantor MUI, Jl Proklamasi, Jakarta Pusat.
Berikut
enam butir Tausiah Kebangsaan Dewan Pertimbangan MUI :
1).
Memperkuat Pendapat Keagamaan Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia tanggal 11
Oktober 2016 tentang penistaan agama, dan seharusnya menjadi rujukan utama
dalam menangani proses hukum masalah dugaan penistaan agama, sebagaimana yang
telah menjadi kebiasaan selama ini. Juga mendukung pernyataan sikap PBNU dan PP
Muhammadiyah yang merupakan pendapat dan sikap sesuai ajaran Islam berdasarkan
Al-Qur'an dan Al-Hadits.
Pendapat
Keagamaan tersebut dikeluarkan sebagai kewajiban para ulama dalam menjaga agama
dan mendorong kehidupan duniawi yang tertib, harmonis, penuh maslahat (haratsat
addin wa siyaszu addunya), serta memelihara kerukunan hidup antarumat beragama
demi persatuan dan kesatuan bangsa.
2).
Menyesalkan ucapan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Pulau Seribu,
"Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil Bapak itu
nggak bisa pilih saya, ya kan. Dibohongin pakai Surat Al Maidah 51, macem-macem
ini. Itu hak Bapak Ibu. Jadi Bapak Ibu perasaan nggak bisa pilih nih karena
saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya," yang beredar luas di
masyarakat.
Ucapan
tersebut jelas dirasakan Umat Islam sebagai penghinaan terhadap Agama Islam,
Kitab Suci Al Qur'an, dan ulama, karena memasuki wilayah keyakinan pemeluk
agama lain dengan memberikan penilaian dan pemahaman yang diberikan para ulama,
dan dengan memakai kata yang bersifat negatif, pejoratif, dan mengandung
kebencian (hate speech). Ucapan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama tersebut
menunjukkan intoleransi dan rendahnya tenggang rasa terhadap keyakinan orang
lain dan sangat potensial menciptakan kegaduhan sosial dan politik yang dapat
mengarah kepada terganggunya stabilitas nasional.
3).
Memberikan apresiasi kepada umat Islam dan beberapa elemen bangsa yang
menggelar aksi damai 4 November 2016 sebagai reaksi yang telah berlangsung
dengan aman dan damai yang dipimpin oleh para ulama, habaib dan para tokoh
Islam. Aksi damai tersebut yang menunjukkan kesatuan dan kebersamaan semua
elemen bangsa merupakan ekspresi demokrasi yang konstitusional dan positif
untuk mendorong penegakan hukum di negeri yang menganut supremasi hukum.
Insiden yang terjadi di luar waktu unjuk rasa adalah ulah provokator yang hanya
ingin menciderai aksi damai tersebut.
4).
Menyampaikan bela sungkawa dan simpati yang mendalam atas jatuhnya korban (yang
terluka maupun yang meninggal dunia), baik dari kalangan peserta aksi dan
peserta keamanan dan diharapkan pada masa yang akan datang aksi damai tidak
dihadapi dengan tindakan represif.
5).
Karena kasus penistaan agama bukan masalah kecil, maka diminta agar proses
hukum dijalankan secara berkeadilan, transparan, cepat, dan memperhatikan rasa
keadilan masyarakat luas.
6).
Menyerukan kepada seluruh umat Islam Indonesia untuk tidak terpancing dengan
isu-isu yang menyesatkan dan provokatif serta memecah belah kehidupan umat dan
bangsa Indonesia. Seraya menyerukan dan mengajak umat Islam Indonesia untuk
tetap menjaga ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathoniyah, dan terus memanjatkan
doa kepada Allah SWT untuk kebaikan dan kemaslahatan bangsa.
Sumber
: suara-islam.com
Red :
adhila/dbs
※ Ya Allah... semoga yang membaca artikel ini :
¤ Muliakanlah orangnya… Yang belum menemukan jodoh semoga lekas dipertemukan... Yang belum mendapatkan keturunan semoga cepat mendapatkannya… Semoga tergerak hatinya untuk bersedekah… Yang laki2 entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid… Bahagiakanlah keluarganya… Luaskan rezekinya seluas lautan… Mudahkan segala urusannya… Kabulkan cita-citanya… Jauhkan dari segala Musibah, Penyakit, Prasangka Keji… Jauhkan dari segala Fitnah, Berkata Kasar dan Mungkar. Aamiin ya Rabbal'alamin.
¤ Muliakanlah orangnya… Yang belum menemukan jodoh semoga lekas dipertemukan... Yang belum mendapatkan keturunan semoga cepat mendapatkannya… Semoga tergerak hatinya untuk bersedekah… Yang laki2 entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid… Bahagiakanlah keluarganya… Luaskan rezekinya seluas lautan… Mudahkan segala urusannya… Kabulkan cita-citanya… Jauhkan dari segala Musibah, Penyakit, Prasangka Keji… Jauhkan dari segala Fitnah, Berkata Kasar dan Mungkar. Aamiin ya Rabbal'alamin.
“Bila kau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan
menanggung perihnya kebodohan” (Imam Syafi’i)

