Oleh KH. A. Hasyim Muzadi (Mantan Ketum PBNU dan Pengasuh
Pesantren Al-Hikam Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an Depok) - ( Rabu, 09 Nov 2016 - 18:15:24 WIB ) di Rubrik TSKita.
1). Dikalangan umat Islam seluruh dunia
ada tiga hal yang tidak boleh disinggung atau direndahkan yakni : Allah SWT, Rasulullah SAW, dan Kitab suci
Al-Quran. Apabila salah satu, apalagi ketiganya disinggung dan direndahkan
pasti mendapat reaksi spontan dari umat islam tanpa disuruh siapapun. Reaksi
tersebut akan segera meluas tanpa bisa dibatasi oleh sekat-sekat organisasi,
partai, dan birokrasi. Kekuatan energi tersebut akan bergerak dengan sendirinya
tanpa dibatasi ruang dan waktu.
2). Fenomena demo 4 November 2016 tentu
secara lahiriah dipimpin oleh beberapa tokoh yang merasa terpanggil untuk
membela kesucian kitabnya. Namun jumlah
yang hadir membuktikan adanya kekuatan (energi spritiual) yang dahsyat dari
pengaruh Al-Quran tersebut. Hal ini dapat dibuktikan para pemimpin yang
melakukan demo atau mengumpulkan masa tanpa dorongan spiritualisme tersebut
tidak mungkin dapat menggerakan umat yang berjumlah jutaan. Mereka berjalan
dengan damai, tertib dan siap untuk berkorban. Sehinga sesungguhnya tidak perlu
dicari dalangnya, provokator atau siapa yang membayar. karena provokator dan
bayaran setingkat apapun tidak akan mampu menggalang kekuatan tersebut. Yang
ada mereka adalah menempel gelombang besar untuk kepentingannya bukan kemampuan
menciptakan gelombang itu sendiri.
3). Kedahsyatan
energi Al-Quran tersebut hanya bisa dimengerti, dirasakan dan diperjuangkan
oleh orang yang memang mengimani alquran. Tentu sangat sulit utk
diterangkan kepada mereka yang tidak percaya kepada alquran, berpikiran atheis,
sekuler dan liberal. Karena mereka jangan lagi memahami energi alquran,
menerima alquran pun belum tentu bisa. Sehingga perdebatan antara keimanan
kepada aquran dan ketidak percayaan kepada alquran hanya akan melahirkan
advokasi bertele-tele dan berbagai macam rekayasa.
4). Al-Quran
sebagai kitab suci sekaligus kitab pembeda (Al-Furqon) yang membedakan antara
yg hak dan yang batil. Maka tidak heran kalau kemudian kelihatan dikalangan
umat islam sendiri mana yang bertindak sebagai pejuang, sebagai pengikut
perjuangan yang ikhlas tanpa pamrih, yang mengambil posisi memanfaatkan keadaan
(kepentingan duniawi sesaat) dan mana yang memang menyelewengkan Al-Quran.
Sedangkan di kalangan non muslim sendiri hanya sangat sedikit yang membuat
konflik lintas agama dengan kaum muslimin. Mereka adalah fihak yang sudah basah
politisasi dan kapitalisasi ekonomi serta hegemoni kekuasaan. Sedangkan
mayoritas mutlak non muslim tetap bersatu bersama kaum muslimin dalam penegakan
NKRI.
5). Di
era demokratisasi politik indonesia gerakan pembelaan Al-Quran tidak akan lolos
dari upaya pihak-pihak tertentu dalam melakukan politisasi yang tujuannya
membelokkan dan mengaburkan tujuan suci tersebut. Politisasi sebenarnya
tidak hanya terjadi pada tanggal 4 11 malam hari, tetapi sesungguhnya telah
dimulai semenjak rakyat merasakan penggunaan kekuasaan untuk mendukung atau
tidak mendukung salah satu pihak yang memiliki kepentingan. Seorang gubernur
petahana yang akan mencalonkan kembali sebagai gubernur diharuskan oleh
undang-undang untuk menjalani cuti. Artinya tidak boleh ada penggunaan
kekuasaan didalam proses demokratisasi pemilihan. Apabila terjadi termasuk
abuse of power (Penyalahgunaan kekuasaan).
6). Perdebatan tentang siapa dalang,
provokator, penunggangan politik, sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi
sebagai isu, demi kesatuan dan persatuan NKRI. Lebih bermanfaat kalau kita fokus kepada kewajiban negara dalam
melindungi hak yang adil dari kaum muslimin indonesia. Sehubungan dengan adanya
penistaan alquran tersebut yang diproses menurut hukum negara (UU No 1. Tahun
1965). Hal semacam ini sebenarnya pernah terjadi di Indonesia pada kasus
Arswendo, lia eden dan musadek. Namun bedanya mereka tidak sebesar Ahok.
7). Khusus
untuk kaum muslimin indonesia agar terus memperbaiki kualitas perjuangannya.
Hendaknya janganlah masalah kemurnian perjuangan pembelaan Al-Quran ini
dicampur aduk dengan isu khilafah, pendirian negara islam, memberi peluang
terhadap ISIS, peluang terhadap teroris, dan perlawanan terhadap pesatuan dan
kesatuan bangsa. Karena apabila hal-hal tersebut dilakukan oleh kaum
muslimin akan menjadi alat pukul balik terhadap kaum muslimin itu sendiri, dan
dapat mengakibatkan umat islam bercerai-berai.
8). Seluruh
kaum muslimin apapun ormasnya jangan beranggapan bahwa sekat-sekat ormas itu
dapat menghadang energi alquran. Karena kalau dipaksakan, justru berakibat
tidak ditaatinya pemimpin oleh umatnya sendiri yang memang ghirah alqurannya
tinggi.
9). Saat
ini upaya untuk menciptakan opini bahwa Ahok tidak menistakan agama tampak akan
berlanjut. Kita masih menunggu hasil finalnya. Hasil Finalnya tersebut
bergantung siapa yang dimintai pendapat dan fatwanya oleh pihak kepolisian.
Semoga akan selaras dengan keputusan MUI (Majelis ulama Indonesia).
Pesantren
Al-Hikam Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an Depok, 9 November 2016.
Disadur
dari : teropongsenayan.com
※ Ya Allah... semoga yang membaca artikel ini :
¤ Muliakanlah orangnya… Yang belum menemukan jodoh semoga lekas dipertemukan... Yang belum mendapatkan keturunan semoga cepat mendapatkannya… Semoga tergerak hatinya untuk bersedekah… Yang laki2 entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid… Bahagiakanlah keluarganya… Luaskan rezekinya seluas lautan… Mudahkan segala urusannya… Kabulkan cita-citanya… Jauhkan dari segala Musibah, Penyakit, Prasangka Keji… Jauhkan dari segala Fitnah, Berkata Kasar dan Mungkar. Aamiin ya Rabbal'alamin.
¤ Muliakanlah orangnya… Yang belum menemukan jodoh semoga lekas dipertemukan... Yang belum mendapatkan keturunan semoga cepat mendapatkannya… Semoga tergerak hatinya untuk bersedekah… Yang laki2 entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid… Bahagiakanlah keluarganya… Luaskan rezekinya seluas lautan… Mudahkan segala urusannya… Kabulkan cita-citanya… Jauhkan dari segala Musibah, Penyakit, Prasangka Keji… Jauhkan dari segala Fitnah, Berkata Kasar dan Mungkar. Aamiin ya Rabbal'alamin.
“Bila kau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan
menanggung perihnya kebodohan” (Imam Syafi’i)

