Minggu, 13 November 2016

✿ Din Syamsuddin : Luar Biasa Hukum Negeri Kita Ini, yang Salah Itu Ahok, Kok Malah Buni Yani yang Mau Jadi Tersangka.


Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Din Syamsuddin angkat bicara terkait kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.


Din Syamsuddin mempertanyakan kepada aparat penegak hukum karena kasus yang melukai perasaan umat Muslim itu kini justru beralih ke Buni Yani, seorang dosen yang dituding menjadi pengunggah video Ahok saat berpidato di Kepulauan Seribu pada akhir September 2016. 

Menurut Din Syamsuddin aparat terkesan mengalihkan perhatian karena yang diperdebatkan adalah penggunaan kata ‘pakai’ atau tidak ada kata ‘pakai’, padahal menurutnya hal itu memiliki makna yang sama. Si Pengunggah (Buni Yani) kata Din Syamsuddin justru menjadi fokus penanganan hukumnya.

“Luar biasa hukum negeri kita ini, yang salah itu Ahok, kok malah Buni Yani yang mau jadi tersangka,” ujar Din Syamsuddin di Jakarta seperti dilansir okezone, Rabu (9/11/2016).

Mantan Ketua Umum Muhammadiyah ini juga menjelaskan, kasus Ahok itu jelas-jelas melukai perasaan umat Muslim di Indonesia. Jadi ini bukan hanya urusan seorang Buni Yani oleh karena itu ada banyak umat yang melakukan unjuk rasa. 

“Ya kalau ada umat Islam tidak merasa ya mungkin perasaannya hilang, jelas yang dirasakan, maka kemarin mereka unjuk rasa,” jelas Din.

Sumber : islamedia.id

Ya Allah... semoga yang membaca artikel ini :
¤ Muliakanlah orangnya… Yang belum menemukan jodoh semoga lekas dipertemukan... Yang belum mendapatkan keturunan semoga cepat mendapatkannya… Semoga tergerak hatinya untuk bersedekah… Yang laki2 entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid… Bahagiakanlah keluarganya… Luaskan rezekinya seluas lautan… Mudahkan segala urusannya… Kabulkan cita-citanya… Jauhkan dari segala Musibah, Penyakit, Prasangka Keji… Jauhkan dari segala Fitnah, Berkata Kasar dan Mungkar. Aamiin ya Rabbal'alamin.


“Bila kau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” (Imam Syafi’i)
 
;