Pernyataan Gubernur DKI Jakarta nonaktif,
Basuki T. Purnama, dalam sebuah pertemuan di Kabupaten Kepulauan Seribu pada
Selasa, 27 September 2016 lalu merusak keharmonisan dan kerukunan umat bergama
di Indonesia. Karena selain memasuki wilayah keyakinan pemeluk agama lain,
memberikan penilaian terhadap pemahaman agama lain, dan lebih paranya lagi Ahok
memakai kata yang bersifat pejoratif mengandung kebencian.
"Kerukunan antar agama dan antar suku/ras tengah kita rajut tapi Ahok merusaknya," tegas mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, dalam pesan singkat yang diterima Kantor Berita Politik RMOL petang ini (Minggu, 13/11/2016).
Menurutnya, takdir Allah yang memelesetkannya dengan ujaran kebencian di Pulau Seribu yang kemudian mendorong reaksi besar adalah tanda bahwa kekuasaan dan keadilan Ilahi sedang menempuh jalannya. "Kepada kaum beriman/umat beragama jangan abaikan itu," kata Presiden-Moderator Asian Conference of Religions for Peace (ACRP) ini mengingatkan.
Sebab, kiprah Ahok selama memimpin DKI Jakarta tidak sepi dari kelemahan-kelemahan mendasar. Namun dia selalu lolos bahkan dari dugaan kasus korupsi. Din menjelaskan Ahok sangat patut diduga melakukan korupsi dalam kasus RS Sumber Waras dan reklamasi pulau-pulau di Teluk Jakarta. Namun KPK tidak berdaya menyeretnya seperti menyeret para tersangka yang diduga menerima suap dalam jumlah kecil sekalipun.
"Sepertinya ada kekuatan besar yang membelanya, dan pihak pemangku amanat dan penentu kebijakan seperti tidak berdaya bekerja dengan hati nurani," ucap Guru Besar UIN Jakarta ini. Tak hanya itu, menurut Din, Ahok juga selama ini bukan bekerja untuk rakyat kecil. Dia lebih bekerja untuk para pengusaha besar, misalnya yang lebih kentara terkait proyek reklamasi. Karena itu dalam amatan Din, Ahok sebenarnya tak punya prestasi selama memimpin Ibukota.
Prestasinya memimpin Jakarta selama ini lebih karena opini yang dibangun media-media pendukungnya yang tidak menampilkan keburukan-keburukannya. "Apa yang dianggap sebagai keberhasilan Ahok sesungguhnya sudah dimulai sejak masa Gubernur Joko Widodo, bahkan Gubernur Fauzi Wibowo dan Sutiyoso," ucapnya.
Perilaku politik Ahok juga menjadi contoh buruk dari seorang politikus. Ahok yang loncat-loncat dari partai yang satu ke partai lain menunjukkan ambisi kekuasaan yang sangat oportunistik. Bahwa dia melupakan partai atau orang yang berjasa mendukungnya juga merupakan perilaku tidak etis dari seorang pemimpin.
Dari contoh-contoh yang diuraikan di atas, Din berkesimpulan Ahok adalah problem maker, bukan problem solver. "Kita semua harus bersama-sama tergerak untuk menyelamatkan bangsa ini dari ketersanderaan dan perpecahan," tandasnya.
Karena itu pula Din menegaskan sikapnya tersebut bukan karena Ahok Kristiani atau Tionghoa, bukan pula karena dirinya mendukung salah satu dari dua pasangan calon lain. "Saya menolaknya adalah karena hati nurani saya meyakinkan bahwa dia bukan pemimpin yang cocok bagi masyarakat Jakarta apalagi Indonesia," demikian Din Syamsuddin.
Sumber : RMOL
※ Ya Allah... semoga yang membaca artikel ini :
¤ Muliakanlah orangnya… Yang belum menemukan jodoh semoga lekas dipertemukan... Yang belum mendapatkan keturunan semoga cepat mendapatkannya… Semoga tergerak hatinya untuk bersedekah… Yang laki2 entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid… Bahagiakanlah keluarganya… Luaskan rezekinya seluas lautan… Mudahkan segala urusannya… Kabulkan cita-citanya… Jauhkan dari segala Musibah, Penyakit, Prasangka Keji… Jauhkan dari segala Fitnah, Berkata Kasar dan Mungkar. Aamiin ya Rabbal'alamin.
¤ Muliakanlah orangnya… Yang belum menemukan jodoh semoga lekas dipertemukan... Yang belum mendapatkan keturunan semoga cepat mendapatkannya… Semoga tergerak hatinya untuk bersedekah… Yang laki2 entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid… Bahagiakanlah keluarganya… Luaskan rezekinya seluas lautan… Mudahkan segala urusannya… Kabulkan cita-citanya… Jauhkan dari segala Musibah, Penyakit, Prasangka Keji… Jauhkan dari segala Fitnah, Berkata Kasar dan Mungkar. Aamiin ya Rabbal'alamin.
“Bila kau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan
menanggung perihnya kebodohan” (Imam Syafi’i)
