Oleh : Ferdinand Hutahaean
RUMAH AMANAH RAKYAT
RUMAH AMANAH RAKYAT
Jakarta, 17 Nopember 2016 — Jika masih ada demo setelah penetapan Ahok sebagai tersangka, maka mereka adalah pemecah belah NKRI, separatis. Begitulah stigma dan cap yang dilekatkan oleh penguasa saat ini kepada siapapun yang masih ingin demo atas penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang kini mendapat gelar tambahan sebagai tersangka.
Stigma dan tuduhan yang terlalu kasar bahkan bentuk pembungkaman
serta pembunuhan ruang demokrasi yang diatur oleh Konstitusi dan UU Kebebasan
Penyampaikan Pendapat. Sepenting itukah bagi penguasa untuk membungkam ruang
demokrasi hanya untuk menyelamatkan sebuah kekuasaan yang tidak akan pernah
abadi?
Ruang demokrasi adalah hak dasar konstitusional setiap warga
negara tanpa melihat agama, suku, ras dan pangkat serta jabatan. Ruang
demokrasi yang tidak bisa diterapkan secara terbalik. Demokrasi adalah hak
kedaulatan rakyat dan bukan hak kedaulatan penguasa. Rakyat boleh memaksakan
suaranya secara mayoritas kepada penguasa, itulah demokrasi. Suara terbanyak
boleh memaksakan tuntutan kepada penguasa, bahkan untuk menurunkan dan
mengganti rejim sepanjang itu suara mayoritas rakyat. Dan sebaliknya bahwa
penguasa tidak boleh memaksakan kehendak dan pendapat kepada rakyat yang
sesungguhnya adalah subjek demokrasi. Rakyat memilih pemerintah lewat demokrasi
untuk melayani dan mengurus negara. Negara yang didalamnya subjek pokok dan
utama adalah rakyat. Pemerintah dipilih bukan untuk menindas dan menekan rakyat
atas nama kekuasaan dan kekuatan kekuasaan. Ini kudeta kepada kedaulatan
rakyat.
Terlalu buruk stigma separatis, pemecah belah NKRI yang
dituduhkan kepada publik yang menginginkan penegakan hukum lebih tegas,
berkeadilan dan diperlakukan sama terhadap setiap orang. Lihatlah anak-anak HMI
yang dijemput dan langsung ditahan oleh penegak hukum hanya dengan tuduhan
memprovokasi dan melawan petugas yang sama sekali tidak berdampak pada
kekacauan secara besar apalagi nasional. Ancaman hukuman pun jauh lebih ringan
dari ancaman hukuman terhadap Ahok. Tapi biarlah itu menjadi hak subjektif
penyidik yang justru menunjukkan penegakan hukum ini tidak sama dan tidak
berkeadilan.
Saya ingin mengajak kembali kita sama-sama menggunakan nalar
rasionalitas waras bukan nalar yang tidak sehat apalagi mendekati gila bahkan gila.
Hukum sebab akibat dan hukum aksi reaksi sudah ada sejak dunia ini diciptakan.
Dan teorinya sebab dan aksi lah selalu penyebab timbulnya akibat dan reaksi.
*Maka yang perlu ditangani untuk menyelesaikan akibat dan reaksi adalah
mematikan sebab dan aksi, bukan malah menyalahkan akibat dan reaksi.
Kami sekarang adalah orang-orang tertuduh separatis dan pemecah
belah bangsa. Kami itu siapa? Kami adalah saya, anda kita semua jutaan manusia
yang melakukan aksi menuntut penegakan hukum yang adil, sama terhadap semua
orang, bukan penegakan hukum yang pura-pura adil dan pura-pura sama apalagi
penegakan hukum untuk kepentingan politik kekuasaan.
Kami bukan separatis atau pemecah belah NKRI, justru aksi rasis
dan sara menistakan agama itulah yang separatis dan akan memecah belah bangsa. Kami cinta NKRI yang utuh, kami dukung pemerintahan yang adil
dan bekerja untuk rakyat tanpa melihat subjeknya siapa, namun kami akan melawan
rejim yang tidak berpihak pada rakyat dan tidak berpihak pada keadilan sosial.
Sumber : repelita.com/
※ Ya Allah... semoga yang membaca artikel ini :
¤ Muliakanlah orangnya… Yang belum menemukan jodoh semoga lekas dipertemukan... Yang belum mendapatkan keturunan semoga cepat mendapatkannya… Semoga tergerak hatinya untuk bersedekah… Yang laki2 entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid… Bahagiakanlah keluarganya… Luaskan rezekinya seluas lautan… Mudahkan segala urusannya… Kabulkan cita-citanya… Jauhkan dari segala Musibah, Penyakit, Prasangka Keji… Jauhkan dari segala Fitnah, Berkata Kasar dan Mungkar. Aamiin ya Rabbal'alamin.
¤ Muliakanlah orangnya… Yang belum menemukan jodoh semoga lekas dipertemukan... Yang belum mendapatkan keturunan semoga cepat mendapatkannya… Semoga tergerak hatinya untuk bersedekah… Yang laki2 entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid… Bahagiakanlah keluarganya… Luaskan rezekinya seluas lautan… Mudahkan segala urusannya… Kabulkan cita-citanya… Jauhkan dari segala Musibah, Penyakit, Prasangka Keji… Jauhkan dari segala Fitnah, Berkata Kasar dan Mungkar. Aamiin ya Rabbal'alamin.
“Bila kau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan
menanggung perihnya kebodohan” (Imam Syafi’i)

